Thursday, 29 January 2009

Baju ketat, seluar sendat...


Aku semakin hairan dengan budak-budak sekarang, baik si Mamat mahupun si Minah. 
Kenapakah aku berkata sedemikian rupa?. 
Kenapa tidaknya, kerana sudah bertukar zaman rupanya...

Pakai baju ketat-ketat,
Seluar juga sendat-sendat,
Sampai nampak dalamnya pusat?.
Ada terbonjol... ada bulat,
Macam bentuk buah putat.

Seluar londeh... baju singkat,
Jalan pula terkulat-kulat,
Gaya mengalahkan ulat-ulat,
Sekali golek terbonjol bulat.

Pakai juga tudung kepala,
Biar alim orang kata,
Tapi pusat nampak juga,
Lurah punggung terdedah pula,
Seluar dalam berkaler-kaler,
Apa macam gaya mereka?

Aku tengok pening kepala,
Mereka lalu depan mata,
Apa sudah jadi dengan dunia,
Semakin maju semakin meloya,
Mereka kata we up todate la,
You... tahu apa.

Nampak pusat dicucuk pula,
Habis ditindik merata-rata,
Macam mana aku tidak jeling mata,
Tengok gelagat anak muda,
Esok lusa entah anak aku pula?...
Minta simpang jauh dari neraka.

Aku ingat lembu Pak Mamat saja,
Ditindik hidung dan telinga,
Rupanya anak Pak Mamat juga,
Tebuk pusat, bibir, lidah dan kelopak mata...

Cempedak sendat ada harga,
Manusia sendat sedap di mata,
Apalah gunanya semua,
Tatapan nafsu si jejaka,
Hanya untuk syok-syok saja,
Semata jadi halwa dunia.

Wahai anak muda teruna dara,
Tidak malukah jadi boneka,
Satu dunia tatap dosa,
Hanya untuk menjamu mata,
Mereka buat teka-teka,
Macam teka silang kata,
Kita tengok siapa yang kena,
Macam cerita Alibaba,
Penyamun tarbus kepala jingga.

Jangan ikut itu gaya,
Semua dekat pada zina,
Di akhirat langsung tak berguna,
Menyesal sudah tiada guna,
Air mata darah pun tidak laku juga.

Kesian aku padat tok alim kita,
Kena jalan tunduk kepala,
Setiap hari terhantok kepala,
Berlanggar papan signboard saja,
Pasal hendak jaga mata,
Takut hilang segala pahala,
Risau nanti dapat dosa.

Alangkah sopan beradat budaya,
Baju kurung teluk belanga,
Manis pula tutur bicara,
Lemah lembut di atur gaya,
Itukan molek dipandang mata.

Ingatlah orang muda-muda,
Umur kita tidak ada beza,
Tua muda sama saja,
Kena ingat itu semua.
Umur hanya sejengkal dua,

Esok lusa tidak boleh duga,
Malaikat maut menanti saja,
Marabbuka.......
Siapa dulu jumpa yang Esa,
Pilihannya Syurga atau Neraka?
Tepuk dada tanyalah selera... 
 
abuzorief @ sheffield 
29/1/2009 tuesday

No comments:

Post a Comment